Makhluk tuhan yang lekat dengan keindahan, putih, suci, tak bernoda. Senyumnya bak dewi kedamaian menghipnotis setiap mata manusia yang melihatnya. Membawa sekantung cahaya dari Valhalla untuk disebarkan kepada seluruh makhluk bumi. Mereka berikan rasa aman dan keindahan yang diidam-idamkan setiap orang.

Manusia selalu terpesona dengan liukan indahnya di langit, berharap mereka bisa menghabiskan waktu semalam suntuk berdua dengannya. Atau paling tidak bisa bertatap muka walaupun hanya mengucapkan satu huruf yang tidak bermakna.

Sekejap manusia-manusia itu terbutakan oleh pesona sang malaikat, tenggelam bersama euphoria dan termakan oleh angan-angan.

Sampai akhirnya mereka tersadar bahwa malaikat yang mereka elu-elukan tersebut hanyalah makhluk bersayap patah yang diselimuti gaun compang camping. Tak lebih indah dari kumpulan lalat hijau yang berputar-putar di tumpukan sampah kota.

Wajahnya berlumur darah, badannya dipenuhi borok. Siluman dari neraka paling dalam dimana tempat Lucifer bertakhta. Lidahnya bercabang dua dengan racun kemunafikan berkembang biak di setiap rongga-rongga mulutnya. Anak haram surga, hasil senggama para penghuni neraka.

Kotor, jorok, menjijikan. Menghapus kesan indah yang lama tertanam dalam diri si malaikat. Makhluk indah itu bukan lagi cahaya, ialah pedang setan yang akan menancapkan kebohongan di setiap otak manusia-manusia.

Malaikat itu akan menukik dari langit dengan senyum laknatnya menghunus dari belakang setiap manusia yang telah terdoktrin oleh kedok keindahan yang sudah ia pakai sejak lama…..

Hati-hati manusia…kalian buta…yang kalian lihat tidaklah nyata…

[ Every rose has it's thorn ]

Tipis, ringan, terbuat dari secarik kertas. Ukurannnya tidak lebih besar dari poster dan tidak lebih kecil dari sebuah buku tulis murid Sekolah Dasar. Memang ukurannya tidak terlalu besar, tapi isinya bermacam-macam. mulai dari Iklan, Himbauan, Harapan, Penipuan, Pesan Tuhan, hingga Doktrin Setan. Letaknya ada dimana-mana, menempel di setiap tembok, pintu, dan tiang listrik. Menghias sudut-sudut kota dengan tema kumuh. Ia bisa memberikan perasaan yang berbeda kepada tiap orang yang membacanya. Sedih, Senang, Tangis, Tawa, Bertanya-tanya, Murka. Tetapi setelah membaca, kemudian para manusia mengabaikannya begitu saja. Tak bermakna, dimakan lupa.

Pamflet yang selalu setia menawarkan informasi mulai tak digubris eksistensinya. Ratusan orang lalu lalang melewatinya tak acuh, tak peduli, persetan. Pamflet terus menempel setia di tembok yg retak dan bau pesing. Perlahan tapi pasti pamflet mulai disobek-sobek oleh ganasnya angin musim semi. Sisa informasi yang dulu begitu dicari, kini tinggal serpihan kertas tak berarti. Menjadi kotoran di tembok mati yang bahkan tak lebih berarti dari pamflet itu sendiri. Para pembacanya pun sudah tidak peduli lagi.

Sampai akhirnya pamflet yang sudah terkikis itu mulai dibersihkan, disingkirkan,diusir paksa. Dan di tempat yang sama pamflet-pamflet baru mulai di tempel kembali. Lebih segar, lebih berwarna-warni. Apapun bentuknya, pamflet tersebut akan bernasib sama dengan si pamflet lama. Menarik mata, dibaca dengan seksama, dan kemudian dilupa begitu saja. Hanya jadi selayang pandang semata.


Dan apa jadinya jika sebuah persahabatan seperti pamflet yang tertempel di tembok-tembok kota?….

Hanya jadi selayang pandang semata”.

LIFELESS – Rantai Kekang Jiwa

Kuat rantai kekang jiwa
Menyiksaku tiada henti
ku tersesat, terhabisi…pada tuhan diriku memaki

Kuterjebak dalam gelap
ku terpuruk rasa benci
dan terlaknat tiga angka enam yang ada di dalam diri

Maut mencengkram jiwa
musnahkan raga
Aku terbakar rentetan luka

Sakit meregang nyawa
(sakit meregang nyawa)

Diam ku terpenjara
(Diam ku terpenjara)

terasing dari dunia
hirup aroma dosa
kan kulahap semua
sisa serpihan luka
Lyric By : Bima
Song By     : Lifeless

Tulisan di atas merupakan lirik dari band saya, Lifeless.

kunjungi Myspace kami

http://www.myspace.com/grindinglife

dan
Download lagu

http://www.mediafire.com/download.php?tkjkio4jyln

Dunia…
Apa perbedaan dengan Surga
Apa perbedaan dengan Neraka

Dunia…
Tempat kami Mendapat Pahala
Tempat kami Membuat Dosa

Dunia…
Adalah Fatamorgana
Adalah ilusi mata

Dunia…
Kita akan hancur dengan Dunia beserta isinya

Dunia…
Mengapa diciptakan Dunia jika memang ada tempat yang lebih baik nantinya?

Mereka berjajar membuat barisan
Menyusun antrian untuk sebuah harapan
Cahaya putih yang konon membawa pertolongan

Kehidupan hanyalah sebuah cerita usang
yang tertulis dengan hitam arang
dan kemudian hancur terbentur batu karang

Mereka adalah jiwa yang terlantar
Dibawah terik sinar matahari mereka terbakar
Melihat penipuan dengan mata berbinar

Pasrah mereka dibodohi
Dengan perlahan mereka menuju mati
dan Pembunuh itu bernama Ekonomi

“Iya!!…serve Ibu Entin, diterima oleh Ibu Yuli, dioper kepada Ibu Ross…angkat melambung…c’mess Ibu Utih…sayang sekali melenceng…

aduh kenapa Ibu Utih tidak ada tenaga…ada apa di hatimu Ibu Utih…masa belum mkan?…

Ayo semuanya konsentrasi biar terlelap lebih jauh,  lebih dalam dari sebelumnya…”

-Kutipan Seorang Komentator Ulung sebuah pertandingan Bola Volley Antar Kampung…di depan rumah saya-

Beberapa pekan setelah aktifitas perkuliahan selesai, saya masih tidak bisa berhenti menggerutu. Saya terus-terusan saja komplain kepada angin mengenai ‘jadwal’ liburan yang terbilang mepet :) …Jika boleh saya membandingkan, Universitas lain di Bandung seperti UN***PAR atau UN***ISBA (maaf,harus saya sensor) memiliki tenggang waktu liburan yang lebih ‘manusiawi’. Yah begitulah kampus saya UN***PAD F**I**KOM (maaf,sekali lagi saya sensor). Tapi toh percuma saja mengeluh karena hanya akan membuang-buang tenaga, dan tidak mungkin juga jika saya harus menggelar demo di depan Gedung Sate menuntut waktu libur yang lebih lama.

Toh…mau libur berapa lama pun tetap terhitung sedikit buat saya, karena saya kebetulan ikut Semester Alih Tahun Anak Nangor (SATAN)…rrrr..

Akhirnya saya berpasrah diri bahwa tempat liburan saya ada di dua tempat yaitu, ‘Wahana Kampus’ dan ‘Istana Rumah’. Tetapi, saat saya mulai terasing lebih jauh di dalam pusaran keputus-asaan, Ibu saya pun membawa sekeranjang penuh cahaya harapan yang saya nanti. Cahaya harapan itu terwujudkan oleh perkataan beliau yang tidak jauh seperti ini:

“Bim, mau ikut ke Lombok ga?”. . . .

Dewa Odin telah mengirimkan para Valkyrie untuk menjemput saya dari dasar Nifleheim.

Singkat cerita. Disinilah saya sekarang, sebuah kamar bernomor 317 dengan laptop di depan mata ditemani desiran ombak membisingkan telinga. Dan sebuah Flyer iklan yang bertuliskan “LOMBOK Pantai Senggigi”.

di sini mereka tak bertuhan
di sini omong kosong adalah sarapan
di sini janji hampa menjadi harapan
di sini kebodohan membangun kerangka masa depan

di sini kekuasaan adalah segalanya
di sini luka hidup menganga
di sini kebebasan terpenjara
di sini…impian tenggelam bersama matahari senja

di sini…ada kami menanti kemerdekaan yang sejati

Kebisingan mendengung di bawah langit malam
Menjadi latar saat kau dan aku duduk terpaku

Rasi bintang tidak datang malam ini
Menyisakan kekecewaan, melantunkan kesunyian

Angin menyerantakan kepedihan
Merasuk, meracun tak tertahan

Kau terhenyak, terhempas, tak tertolong
Melesat cepat menuju lubang hitam

Mulut terjait sepi
Kata yang terlontar berubah semu

Kita terdiam menjadi saksi
Venus dan Mars tak lagi bersatu

Otakmu bertanya kematian
Mulutmu berucap kesengsaraan
dan hatimu meniupkan sangkakala dengan lantang

*Sorry dear if it’s too painful

Goresan malam yang sepi
Orkestra jangkrik tak menggelar konser malam ini
Cahaya bulan tak lagi menerangi tanah
Figura langit pekat tanpa indah

Alam bawah sadar terus memberikan fiksi
Memunculkan imaji-imaji tak kasat mata
Kerangka mimpi bercampur tak karuan dengan ilusi
Menahan raga untuk tetap terjaga

Yang nyata tak berdaya, maya pun berkuasa

Mata terbuka menghadap layar
Membaca yang ada secara liar
Tak mau berhenti, terus beraksi

Jari menghentak setiap kotak
Berkreasi menyusun sintaks

Alunan huruf mengikuti irama
Tersusun rapih menjadi kata

Malam berganti, sampai pagi….